Kuntilanak
Bulan menikam sepiku
mengoyak kebekuan
hati ini terbakar pada
ganas rindumu.
Telah lama angin sampaikan kabarmu
pada nyanyi rindumu yang mengiris gendang telinga
menegakkan bulu kuduk. tentang kekasih yang kabur
dibawa roda gila, ia pergi setelah hempaskanmu
dalam tanah merah.
Telah lama ingin seret aku ikuti permainanmu,
menari diantara sepi malam,
menyanyi dalam temaram lampu bulan,
tapi aku takut terbakar, meledak menjadi bintang
bisingkan malam yang sepi mulanya
oh aku takut meleleh,
habis
Bulan menikam sepiku
mengoyak kebekuan
hati ini terbakar pada
ganas rindumu.
Telah lama angin sampaikan kabarmu
pada nyanyi rindumu yang mengiris gendang telinga
menegakkan bulu kuduk. tentang kekasih yang kabur
dibawa roda gila, ia pergi setelah hempaskanmu
dalam tanah merah.
Telah lama ingin seret aku ikuti permainanmu,
menari diantara sepi malam,
menyanyi dalam temaram lampu bulan,
tapi aku takut terbakar, meledak menjadi bintang
bisingkan malam yang sepi mulanya
oh aku takut meleleh,
habis
Bekasi, 2014
Melepasmu
Sebaiknya kulepas kulit bawang
satu persatu
lalu mengiris-ngiris sepotong-potong
air mata meleleh, tangan bebekas noda
aku puas selesaikan satu bagian rasa
meski pisau tak jadi mengoyak hati
Baiknya kucabut duri di tangan
setelah kagumi mawar
Sebaiknya kulepas kulit bawang
satu persatu
lalu mengiris-ngiris sepotong-potong
air mata meleleh, tangan bebekas noda
aku puas selesaikan satu bagian rasa
meski pisau tak jadi mengoyak hati
Baiknya kucabut duri di tangan
setelah kagumi mawar
yang tak pantas kupegang
pedih. tangan terluka tapi cukup buatmu
mengucur di hampar genggamku dan patah
Aku pamit dari hatimu seperti pengembara
tak tahu diri. begitu mudah ku lepas pelukan
hingga tangan tak mau nadahkan kasihan.
pergi tanpa beban pedih dan bibirmu adalah
rasa rindu yang tak sempat tercium
Bekasi,2014
pedih. tangan terluka tapi cukup buatmu
mengucur di hampar genggamku dan patah
Aku pamit dari hatimu seperti pengembara
tak tahu diri. begitu mudah ku lepas pelukan
hingga tangan tak mau nadahkan kasihan.
pergi tanpa beban pedih dan bibirmu adalah
rasa rindu yang tak sempat tercium
Bekasi,2014
Senja di Pelabuhan Semayang
dalam tenang pantaimu, kuantar gelisah
dari jauh pelayaran, berteman iring ombak
dan gemuruh angin selatan.Lajukan pesan
saat kau singgah di kotaku.
laju perahu temukan pendar cahya suar
terselip di sela karang gelap. 'inikah labuh terakhirku'
terasa pesanmu menjepit arah bagai ikan terjaring pukat
terpikat rayu pulaumu dan canda pencari ikan.
oh aku terperangkap di sisi manis semayang
begitu rapuh aku mendaratkan gelisah.ku tahu
kau menangkap kelemahanku.hingga tombak
menusuk leher. pelan-pelan darah mengalir
menuju arus laut selatan. belayar kembali
aku menjadi asing di semayang, tanpa kepala
yang tertimbun ingatan awal. dan tubuh
bersemayam di rimbun gelisah kotamu.
Balikpapan,2014
dalam tenang pantaimu, kuantar gelisah
dari jauh pelayaran, berteman iring ombak
dan gemuruh angin selatan.Lajukan pesan
saat kau singgah di kotaku.
laju perahu temukan pendar cahya suar
terselip di sela karang gelap. 'inikah labuh terakhirku'
terasa pesanmu menjepit arah bagai ikan terjaring pukat
terpikat rayu pulaumu dan canda pencari ikan.
oh aku terperangkap di sisi manis semayang
begitu rapuh aku mendaratkan gelisah.ku tahu
kau menangkap kelemahanku.hingga tombak
menusuk leher. pelan-pelan darah mengalir
menuju arus laut selatan. belayar kembali
aku menjadi asing di semayang, tanpa kepala
yang tertimbun ingatan awal. dan tubuh
bersemayam di rimbun gelisah kotamu.
Balikpapan,2014
Suatu Hari Di Sepinggan
Sepinggan beribu kesedihan selubungi langit,
tetes airmata sia-sia.lenyap terserap kering tanah
hingga aku terbang nuju awan. menghilang lama
Sepinggan ku telah pergikan seribu catatan
tentangmu. terkubur di remang bintang dan bulan
iringi penguburan. tak ada api unggun
dan hymne kematian. kehilangan wajar adanya
sebab surya tak sudi buka catatanmu lagi.
Mungkin badai kelak mengeja
setiap nyanyi piluku buatmu
mengalun bagai pendaratan
terakhir di ujung musim
Balikpapan,2014
Sepinggan beribu kesedihan selubungi langit,
tetes airmata sia-sia.lenyap terserap kering tanah
hingga aku terbang nuju awan. menghilang lama
Sepinggan ku telah pergikan seribu catatan
tentangmu. terkubur di remang bintang dan bulan
iringi penguburan. tak ada api unggun
dan hymne kematian. kehilangan wajar adanya
sebab surya tak sudi buka catatanmu lagi.
Mungkin badai kelak mengeja
setiap nyanyi piluku buatmu
mengalun bagai pendaratan
terakhir di ujung musim
Balikpapan,2014
Gambar ambil di sini : http://blog-senirupa.tumblr.com/post/67844640405/surealisme-dan-fantasy-digital-painting-karya


Tidak ada komentar:
Posting Komentar