Translate

Minggu, 17 Juli 2016

Langgam Sumut Pos 03 Juli 2016

http://venlifsvessl.blogspot.co.id/2012/03/gambar-naturalisme.html



Pengharapan

sebelum kuntum terbuka
menggeliat daun menyatakan
ruas-ruas kembang santun terpandang
ranting dari jengah tak terpatah serasa
menyimpan aliran air dalam perigi panjang
tersembunyi dari sangka merapuhkan
sebagaimana kata melalui tanpa sangkut
berbelok pikiran pada nujum dusta
menuju degub jantung memanggil keras
tanpa pupus meski terdesak lantun ayun hati
pengharapan berseteru di antara silau bunga
dan keteguhan tak meretak waktu  terpajang.
Bekasi, 2016

Suara

dari jauh suara memanggil
menyisir ke paling tepi tebing
hampir jatuh.meraba batu-batu
kesunyian menghangat
dan kesendirian yang dipunya
gugur satu-satu, melahirkan puisi
tidak dengan sia-sia, membenamkan jerit
mungkin merasuk dan membuka diam-diam
melebarkan batas tak jelas untuk sesuatu
yang patut dibisikkan hingga mencermati
dalam keliaran berlalu kembali tak ada
Bekasi, 2016

Senja di Pasar Tambun

berita ekonomi di koran kumal
telah terbaca petugas pasar
membungkus jasad lalat hitam
yang mati menghirup busuk bawang
jerit bakul terlepas di lorong-lorong pasar
menanda akhir terasa sia-sia menaruh hati
buat waktu yang menyusut begitu mengerikan
bagai kering cabai merah di temaram lampu
melenyap tanpa pesan
tangan telah lama menampung muntahan kerugian
hingga sosok gelap bunyikan kaleng kosong
memanggil orang-orang di lapak sepi
dan saatnya berpulang sebelum petang
menggoreskan bayangan suram buat esok
Bekasi, 10-06-2016

Cerita Sunyi Semalam

Sengaja aku gelayutkan sepasang cerita di atap rumah gelap. Kau tahu sendiri, aku tak begitu suka pada gantungan lampion di beranda. Mengingatkanku pada jejak kunang-kunang yang menerka usia leluhur. dan  aku enggan  menafsirkan sendiri kilapnya dalam remang.
Buat itu aku membakar serbuk wewangian, ditambah menjaga terang lilin. Selepas itu harapan memaksa  sunyi, keluar dari persembunyian. Tak peduli bila malam-malammu terganggu keberisikanku mendengungkan mantra.
Aku ingin pulang, setelah rangkaian sunyi tersusun. Menjelang pekat pagi. Kupikir hatiku akan melayang serupa sepoi angin. Tak peduli pada gaduh yang mengenang peristiwa semalam. Aku telah cukup mengambil sebagian.
Bekasi. 2015


Pengembara Hati

Aku mengumpulkan serakan daunan
Di setiap jalanan yang telah  dijejaki rembulan
Berapa jumlahnya tak pernah terhitung
hanya penuhi kosong keranjang
lalu menghindar dari sapa peronda malam,
sebab pasti  menangkap gelagatku
dan menahan dalam rumah sunyi,
tanpa terjangkau isyarat rembulan
hingga pecah bunyi kentongan terakhir
: Ah pengembaraanku belum berakhir kawan.
Bekasi. 2016
http://www.langgamsp.com/2016/07/03/6633/puisi-puisi-fitrah-anugerah/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar