Analisis Puisi Seperti Ular : Hudan Hidayat
Seperti Ular
seperti ular ku mengembara di antara semak-semak basah
merayap dalam dingin kabut, mendesiskan kerinduan pada
gua tempatku berdiam. hingga mendengar lagu hujan
senandungkan gembiramu yang turun dari langit,tanpa busana
seperti kanak-kanak yang berlompatan menangkap katak
merayap dalam dingin kabut, mendesiskan kerinduan pada
gua tempatku berdiam. hingga mendengar lagu hujan
senandungkan gembiramu yang turun dari langit,tanpa busana
seperti kanak-kanak yang berlompatan menangkap katak
kamu malu bertelanjang depanku, lalu kubelit tubuhmu
agar tak malu dan membuka pintu bumi yang tertutup
rimbunan.kau pun melihat keluasan telaga dan menjebur
lalu mainkan seribu tarian dalam tenang telaga
agar tak malu dan membuka pintu bumi yang tertutup
rimbunan.kau pun melihat keluasan telaga dan menjebur
lalu mainkan seribu tarian dalam tenang telaga
oh aku merasa jadi satu sebab yang membuat engkau
terlempar dari langit dan surga tempatmu nyanyikan rindu
pada bumi. hingga kau ciprati aku dengan beribu liter
air terlarang, aku basah, aku kuyup. dan aku dosa
aku melata dalam sunyi telaga menemani engkau
menjalani kutukan menjadi dewi penghuni telaga sepi
terlempar dari langit dan surga tempatmu nyanyikan rindu
pada bumi. hingga kau ciprati aku dengan beribu liter
air terlarang, aku basah, aku kuyup. dan aku dosa
aku melata dalam sunyi telaga menemani engkau
menjalani kutukan menjadi dewi penghuni telaga sepi
seperti ular, aku lingkari hidupmu dengan ilusi yang tak habis
tersembur dari mulut manisku, lidah apiku membakar sepimu.
engkau melupakan surga lalu menghampiriku, tinggalkan asal
engkau berlari membawa parang, menebas kepala,tubuh,ekor.
kau telah menebas sepiku, dan darah sepi kau hisap
kau mendekam dalam tenang telaga setelah aku menyatu
dalam rimbun daun-daun
tersembur dari mulut manisku, lidah apiku membakar sepimu.
engkau melupakan surga lalu menghampiriku, tinggalkan asal
engkau berlari membawa parang, menebas kepala,tubuh,ekor.
kau telah menebas sepiku, dan darah sepi kau hisap
kau mendekam dalam tenang telaga setelah aku menyatu
dalam rimbun daun-daun
suatu malam, engkau akan melata seperti ular
setelah berganti baju. lalu kau mendesiskan kerinduan
pada katak yang menanti hujan turun.
setelah berganti baju. lalu kau mendesiskan kerinduan
pada katak yang menanti hujan turun.
Bekasi, 20022009
Melepasmu
Sebaiknya ku lepas kulit bawang
satu persatu
lalu mengiris-ngiris sepotong-potong
air mata meleleh, tangan bebekas noda
aku puas selesaikan satu bagian rasa
meski pisau tak jadi mengoyak hati
satu persatu
lalu mengiris-ngiris sepotong-potong
air mata meleleh, tangan bebekas noda
aku puas selesaikan satu bagian rasa
meski pisau tak jadi mengoyak hati
Baiknya kucabut duri di tangan
setelah kagumi mawar yang tak pantas
kupegang
pedih. tangan terluka tapi cukup buatmu
mengucur di hampar genggamku dan patah
setelah kagumi mawar yang tak pantas
kupegang
pedih. tangan terluka tapi cukup buatmu
mengucur di hampar genggamku dan patah
ku pamit dari hatimu seperti pengembara
tak tahu diri. begitu mudah ku lepas pelukan
hingga tangan tak mau nadahkan kasihan.
pergi tanpa beban pedih dan bibirmu adalah
rasa rindu yang tak sempat tercium
tak tahu diri. begitu mudah ku lepas pelukan
hingga tangan tak mau nadahkan kasihan.
pergi tanpa beban pedih dan bibirmu adalah
rasa rindu yang tak sempat tercium
Bekasi, 20022009
Harmoni
Bagaikan bumi yang lahir dalam 7 hari
memecah dalam lingkar kuasamu, hingga
dia gelap awalnya, hingga dia mencari arah
lalu matahari menuntun gelapnya dan bulan
menemani perjalanan. atas kuasamu turun
adam ke bumi lalu bertahta di atas lembah
darah
memecah dalam lingkar kuasamu, hingga
dia gelap awalnya, hingga dia mencari arah
lalu matahari menuntun gelapnya dan bulan
menemani perjalanan. atas kuasamu turun
adam ke bumi lalu bertahta di atas lembah
darah
Seperti juga aku terbelit lingkaran misterimu
lalu kumaknai hujan bagai tetes darahmu
yang kehilangan sebagian nyawa hingga
genangi lautan kering dan lembah sepi
terdengar bapa+ibu menjerit
setelah mereguk sebagian air laut
mereka panggil namaku di setiap lembah.
muncul aku dari sebuah gua sunyi di ujung
bumi. terasa ada kegembiraan dan waktu pun
menyapaku, karena lahir teman baru buat bermain
lalu kumaknai hujan bagai tetes darahmu
yang kehilangan sebagian nyawa hingga
genangi lautan kering dan lembah sepi
terdengar bapa+ibu menjerit
setelah mereguk sebagian air laut
mereka panggil namaku di setiap lembah.
muncul aku dari sebuah gua sunyi di ujung
bumi. terasa ada kegembiraan dan waktu pun
menyapaku, karena lahir teman baru buat bermain
sehabis kelahiranku, darah masih ikuti alur lakuku
menggumpal padat dalam lingkaran jiwa. aku tak bisa
memecahnya karena tertanam di benak awal kejadianku.
kelak waktu menembus lingkaran, dia akan putar ulang
lalu lahirkan bumi baru tanpa darah
hanya air yang bersemayam
kekal
menggumpal padat dalam lingkaran jiwa. aku tak bisa
memecahnya karena tertanam di benak awal kejadianku.
kelak waktu menembus lingkaran, dia akan putar ulang
lalu lahirkan bumi baru tanpa darah
hanya air yang bersemayam
kekal
Bekasi, 14022009
SEMAYANG
Dalam tenang pantaimu, kuantar gelisah
dari jauh pelayaran, berteman iring ombak
dan gemuruh angin selatan.Lajukan pesan
saat kau singgah di kotaku.
dari jauh pelayaran, berteman iring ombak
dan gemuruh angin selatan.Lajukan pesan
saat kau singgah di kotaku.
Laju perahu temukan pendar cahya suar
terselip di sela karang gelap. "inikah labuh terakhirku"
terasa pesanmu menjepit arah bagai ikan terjaring pukat
terpikat rayu pulaumu dan canda pencari ikan.
oh aku terperangkap di sisi manis semayang
terselip di sela karang gelap. "inikah labuh terakhirku"
terasa pesanmu menjepit arah bagai ikan terjaring pukat
terpikat rayu pulaumu dan canda pencari ikan.
oh aku terperangkap di sisi manis semayang
begitu rapuh aku mendaratkan gelisah.ku tahu
kau menangkap kelemahanku.hingga tombak
menusuk leher. pelan-pelan darah mengalir
menuju arus laut selatan. belayar kembali
kau menangkap kelemahanku.hingga tombak
menusuk leher. pelan-pelan darah mengalir
menuju arus laut selatan. belayar kembali
aku menjadi asing di semayang, tanpa kepala
yang tertimbun ingatan awal. dan tubuh
bersemayam di rimbun gelisah kotamu.
yang tertimbun ingatan awal. dan tubuh
bersemayam di rimbun gelisah kotamu.
Bekasi, 13022009
penyair fitrah seolah trance, mabuk langit dan mabuk dirinya sendiri.
dipindahkannya dirinya ke dalam aku lirik dalam puisi - aku, yang
diputarnya menjadi kamu. aku membelah diri menjadi kamu seolah kita
menolak dosa dan menghindarinya.
"engkau malu bertelanjang depanku, lalu kubelit tubuhmu
agar tak malu dan membuka pintu bumi yang tertutup
rimbunan."
dosa itu tetap di sana seperti langit itu tetap juga di sana. tapi
harapan juga pada manusia. "kau pun melihat keluasan telaga dan
menjebur/lalu mainkan seribu tarian dalam tenang telaga".
tapi puisi tetaplah puisi. disapanya langit itu dalam larik yang
sama. seolah sang penyair kini membelah diri dan menunjuk pada adam
dan ia menjelma ular penggoda adam. "engkau malu bertelanjang
depanku, lalu kubelit tubuhmu".
penyair pun bergerak membelah diri lagi. atau tepatnya sang aku lirik
dalam puisi membelah diri lagi. kini menyatukan kita dan kamu menjadi
kita anak anak manusia.
"oh aku merasa jadi satu sebab yang membuat engkau
terlempar dari langit dan surga tempatmu nyanyikan rindu
pada bumi. "
dan menyanyilah dosa itu kembali membuat koor ramai ramai dalam hujan
air terlarang. seolah hujan air makna dari kitab nabi nabi. sampai
telaga sepi sampai ke sepi hati kita manusia itu sendiri.
"aku basah, aku kuyup. dan aku dosa
aku melata dalam sunyi telaga menemani engkau
menjalani kutukan menjadi dewi penghuni telaga sepi"
manusia tetap melompat seperti katak juga. menjadi anak di tengah
sawah - tempat di mana sang katak berada. sawah seolah hidup ini
sendiri menumbuhkan. luas seolah hidup ini sendiri yang menumbuhkan.
katak atau anak anak seolah katak yang menanti hujan - curah makna
kitab lain lagi dari langit sepi yang tinggi.
tapi akhirnya manusia berganti kulit juga. melepas bajunya menjadi
ular: manusia yang berdiam dalam dosanya. ingin kembali ke goa semula
tapi apa daya.
sebab
"suatu malam, engkau akan melata seperti ular
setelah berganti baju. lalu kau mendesiskan kerinduan
pada katak yang menanti hujan turun."
aduh fitrah anugerah, yang telah memberi kita pembaca anugerah dari
dunia kata katanya.
hudan hidayat
dipindahkannya dirinya ke dalam aku lirik dalam puisi - aku, yang
diputarnya menjadi kamu. aku membelah diri menjadi kamu seolah kita
menolak dosa dan menghindarinya.
"engkau malu bertelanjang depanku, lalu kubelit tubuhmu
agar tak malu dan membuka pintu bumi yang tertutup
rimbunan."
dosa itu tetap di sana seperti langit itu tetap juga di sana. tapi
harapan juga pada manusia. "kau pun melihat keluasan telaga dan
menjebur/lalu mainkan seribu tarian dalam tenang telaga".
tapi puisi tetaplah puisi. disapanya langit itu dalam larik yang
sama. seolah sang penyair kini membelah diri dan menunjuk pada adam
dan ia menjelma ular penggoda adam. "engkau malu bertelanjang
depanku, lalu kubelit tubuhmu".
penyair pun bergerak membelah diri lagi. atau tepatnya sang aku lirik
dalam puisi membelah diri lagi. kini menyatukan kita dan kamu menjadi
kita anak anak manusia.
"oh aku merasa jadi satu sebab yang membuat engkau
terlempar dari langit dan surga tempatmu nyanyikan rindu
pada bumi. "
dan menyanyilah dosa itu kembali membuat koor ramai ramai dalam hujan
air terlarang. seolah hujan air makna dari kitab nabi nabi. sampai
telaga sepi sampai ke sepi hati kita manusia itu sendiri.
"aku basah, aku kuyup. dan aku dosa
aku melata dalam sunyi telaga menemani engkau
menjalani kutukan menjadi dewi penghuni telaga sepi"
manusia tetap melompat seperti katak juga. menjadi anak di tengah
sawah - tempat di mana sang katak berada. sawah seolah hidup ini
sendiri menumbuhkan. luas seolah hidup ini sendiri yang menumbuhkan.
katak atau anak anak seolah katak yang menanti hujan - curah makna
kitab lain lagi dari langit sepi yang tinggi.
tapi akhirnya manusia berganti kulit juga. melepas bajunya menjadi
ular: manusia yang berdiam dalam dosanya. ingin kembali ke goa semula
tapi apa daya.
sebab
"suatu malam, engkau akan melata seperti ular
setelah berganti baju. lalu kau mendesiskan kerinduan
pada katak yang menanti hujan turun."
aduh fitrah anugerah, yang telah memberi kita pembaca anugerah dari
dunia kata katanya.
hudan hidayat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar