Pada Kunci yang Pernah Kuhilangkan
Pada kunci yang pernah kuhilangkan, aku ingin pulang
Di remang kerinduan, aku lukis wajahmu
Yang lugu tanpa pernah tahu sebab hilangnya kunci
Di puncak sesalku, aku ingin tiada murka
Bila kau tahu, aku sengaja membuang kunci
Dalam arus yang melenyapkan ingatan tentang rumah
Kali ini aku ingin pulang
Dan mengetuk pelan pintu
Dengan nada yang pernah kau sukai
Semoga kau buka pintu dengan kunci baru
Bekasi, 1-1-2013
Pada kunci yang pernah kuhilangkan, aku ingin pulang
Di remang kerinduan, aku lukis wajahmu
Yang lugu tanpa pernah tahu sebab hilangnya kunci
Di puncak sesalku, aku ingin tiada murka
Bila kau tahu, aku sengaja membuang kunci
Dalam arus yang melenyapkan ingatan tentang rumah
Kali ini aku ingin pulang
Dan mengetuk pelan pintu
Dengan nada yang pernah kau sukai
Semoga kau buka pintu dengan kunci baru
Bekasi, 1-1-2013
Jelang Petang
Jelang petang
Kunyalakan unggun
Percik melangit
Membungkam matahari
Diam-diam angin
menarikan tarian api
Yang perlahan menghangatkan
Kali ini harus berpesta
Sebelum memadam api
Kita bertelanjang dada
Lalu berminum, bernyanyi
Aih, malam aku menyambut
Bergoyang-goyang tak peduli bulan
Aih, tubuhku bermandi keringat
Kelelahan meluap tiada sesal
Bila nanti ada yang menghilang
Lalu menjadikanku seongok arang
Bekasi, 29-12-2013
Jelang petang
Kunyalakan unggun
Percik melangit
Membungkam matahari
Diam-diam angin
menarikan tarian api
Yang perlahan menghangatkan
Kali ini harus berpesta
Sebelum memadam api
Kita bertelanjang dada
Lalu berminum, bernyanyi
Aih, malam aku menyambut
Bergoyang-goyang tak peduli bulan
Aih, tubuhku bermandi keringat
Kelelahan meluap tiada sesal
Bila nanti ada yang menghilang
Lalu menjadikanku seongok arang
Bekasi, 29-12-2013
Ke mana Orang-orang
Ke mana orang-orang setelah meninggalkan tahun-tahun lama. Jalanan melenggang bagai usai perang. Menyisa bau petasan terbakar. Seongok kalender lusuh terinjak. Dan trompet menggelepar diseret-seret angin.
Lalu, ke mana jiwa-jiwa yang memuat kepedihan waktu. Seakan lenyap begitu saja mengubur peristiwa. Menyusup dalam kelam jalanan. Sedang bulan akhir terpincang-pincang menutup masa.
Kota ini akan mati. Langit gemuruh menurunkan hantu-hantu. Membangunkan sopir-sopir yang terpuruk di pangkalan. Tapi, waktu terlalu berat ditarik kembali. Ribuan tronton terlalu ringkih menyeret. Bila putus tali pengikat, ada yang melesat cepat. Terlempar. Berguling-guling ke arah matahari.
Tahun-tahun lama seketika meleleh. Dendam-dendam silam sekejap silau terbakar. Arwah-arwah menjulurkan tangan pada lintas harapan.Manik-manik cahaya merabunkan aku dari musim-musim lalu. Saat berdatangan tronton dari kota jauh di gersang lapangan. Aku mengenangnya dalam sejumlah catatan.
Bekasi, 28-12-2013
Seperti Tergambar
Seperti tergambar di lukisan langit biru
tak henti-henti aku merindu kembali
dan mengucap keluh kesah pada siur angin
Kali ini aku akan terlambat datang
Ke negeri yang telah menumbuhkan pengembara
Di sana terbenam bintang
Dan bangkai kereta teronggok penuh cerita
Oh, tak ada yang dapat diandalkan
Angin begitu saja riuh melewati
tak tentu tuju. Tak mengubah suasana
Aku yang kukuh di tempatku berdiri
Barangkali aku akan datang
Suatu waktu jika kau menebasku berulang kali
Sekian detik aku pecah berkeping
puing bergerak melintasi kepalamu
Dan titik-titik waktu lalu
Aku kembali di titik nol akhir
Seperti cerita silam, aku menjadi menara
Menjaga sinyal langit bagi pengembara
Yang memburu rindu
Bekasi, 21-12-2013
Ke mana orang-orang setelah meninggalkan tahun-tahun lama. Jalanan melenggang bagai usai perang. Menyisa bau petasan terbakar. Seongok kalender lusuh terinjak. Dan trompet menggelepar diseret-seret angin.
Lalu, ke mana jiwa-jiwa yang memuat kepedihan waktu. Seakan lenyap begitu saja mengubur peristiwa. Menyusup dalam kelam jalanan. Sedang bulan akhir terpincang-pincang menutup masa.
Kota ini akan mati. Langit gemuruh menurunkan hantu-hantu. Membangunkan sopir-sopir yang terpuruk di pangkalan. Tapi, waktu terlalu berat ditarik kembali. Ribuan tronton terlalu ringkih menyeret. Bila putus tali pengikat, ada yang melesat cepat. Terlempar. Berguling-guling ke arah matahari.
Tahun-tahun lama seketika meleleh. Dendam-dendam silam sekejap silau terbakar. Arwah-arwah menjulurkan tangan pada lintas harapan.Manik-manik cahaya merabunkan aku dari musim-musim lalu. Saat berdatangan tronton dari kota jauh di gersang lapangan. Aku mengenangnya dalam sejumlah catatan.
Bekasi, 28-12-2013
Seperti Tergambar
Seperti tergambar di lukisan langit biru
tak henti-henti aku merindu kembali
dan mengucap keluh kesah pada siur angin
Kali ini aku akan terlambat datang
Ke negeri yang telah menumbuhkan pengembara
Di sana terbenam bintang
Dan bangkai kereta teronggok penuh cerita
Oh, tak ada yang dapat diandalkan
Angin begitu saja riuh melewati
tak tentu tuju. Tak mengubah suasana
Aku yang kukuh di tempatku berdiri
Barangkali aku akan datang
Suatu waktu jika kau menebasku berulang kali
Sekian detik aku pecah berkeping
puing bergerak melintasi kepalamu
Dan titik-titik waktu lalu
Aku kembali di titik nol akhir
Seperti cerita silam, aku menjadi menara
Menjaga sinyal langit bagi pengembara
Yang memburu rindu
Bekasi, 21-12-2013
Dua Garis Rel
Dua garis rel tak pernah lelah berbagi peran
Dengan bantalan kayu kering
yang menanggung beban rentangan gerbong:
cukup sarat muatan kesangsian
Tentang perlintasan maut
Pada perjalanan terlampau jauh
Akhir tujuan menjelma ledakan seketika kepulan hitam
Membunuh mata yang menyala-nyala ketakutan
Pada maut menjulurkan api dan derit kereta terasa ngeri
"Kita belum sampai" sedang masinis berangkat diam-diam
Menjalankan kemudi yang tersulut api
Tanpa pemberitahuan dan lengking peluit pergi sendiri
Menyisakan arang dalam rongsokan baja.
Isyarat telah sampai. Ini bukan stasiun terakhir
Tapi pemberhentian. Orang-orang berebut keluar dari pintu
Berlari terkurung asap. Pilu jerit kesakitan menyesakkan kisah awal keberangkatan.
Isak tangis teredam lalu lalang kabar mencari
Sedang dua garis rel bertahan diam
Menunggu kereta datang melintas kembali
Bekasi, 11-12-2013
Tak Peduli
Tak peduli lewat mana
Atau naik apa untuk keberangkatan
Kau tetap melaju, lenyap dalam kejauhan
Sendiri barangkali terkenang perjumpaan
Di hari kemarin kau dan aku mengira di akhir tujuan
Lalu, mengapa memercayai perpisahan
Saat peluk harap erat berjanji menyatu lama
Diam-diam angin berkelebat melempar tak terduga
Kita menjadi merana di antara samar pernyataan
Tentang pertemuan yang ternyata menyalakan api kerinduan
Barangkali dusta harus sempurnakan sebelum tangan tak bertaut
Ah, aku begitu rapuh sepeninggalmu
Mengingatmu terasa sisa sakit menghujam benak ini
Dan bagai tukang parkir, aku menantimu
Di antara lalu lalang kenangan
Barangkali kau akan letih dan kembali
Bekasi, 3-12-2013
Benarkah
Benarkah pada setiap perjalanan
Matahari menyandar di kaca jendela
Sewaktu gerak mobil meninggalkan batas pagi
Dan bulan harus jadi bagian nostalgia
Tanpa ironi dan terlipat sendiri dalam awan-awan tipis serupa kasur kapas
Setelah pagi berlanjut ke siang
Sudah pasti arah roda menerjang terik aspal
Matahari nyata melambai-melambai bagai bendera
Mata sepertinya terlarang memandang terlalu lama, apalagi mendalam
Sebab fatamorgana pada kejauhan merenggut
Arah tuju yang masih menyusuri permukaan kota
Benarkah bulan akan ada nanti
Selepas batas kota saat petang
Bulan kemuning tak berbayang ilusi
di antara deret bangunan-bangunan gelap
Lalu, nostalgia seperti mendekat
pada tempat kembali
Bekasi, 29-10-2013
Dua garis rel tak pernah lelah berbagi peran
Dengan bantalan kayu kering
yang menanggung beban rentangan gerbong:
cukup sarat muatan kesangsian
Tentang perlintasan maut
Pada perjalanan terlampau jauh
Akhir tujuan menjelma ledakan seketika kepulan hitam
Membunuh mata yang menyala-nyala ketakutan
Pada maut menjulurkan api dan derit kereta terasa ngeri
"Kita belum sampai" sedang masinis berangkat diam-diam
Menjalankan kemudi yang tersulut api
Tanpa pemberitahuan dan lengking peluit pergi sendiri
Menyisakan arang dalam rongsokan baja.
Isyarat telah sampai. Ini bukan stasiun terakhir
Tapi pemberhentian. Orang-orang berebut keluar dari pintu
Berlari terkurung asap. Pilu jerit kesakitan menyesakkan kisah awal keberangkatan.
Isak tangis teredam lalu lalang kabar mencari
Sedang dua garis rel bertahan diam
Menunggu kereta datang melintas kembali
Bekasi, 11-12-2013
Tak Peduli
Tak peduli lewat mana
Atau naik apa untuk keberangkatan
Kau tetap melaju, lenyap dalam kejauhan
Sendiri barangkali terkenang perjumpaan
Di hari kemarin kau dan aku mengira di akhir tujuan
Lalu, mengapa memercayai perpisahan
Saat peluk harap erat berjanji menyatu lama
Diam-diam angin berkelebat melempar tak terduga
Kita menjadi merana di antara samar pernyataan
Tentang pertemuan yang ternyata menyalakan api kerinduan
Barangkali dusta harus sempurnakan sebelum tangan tak bertaut
Ah, aku begitu rapuh sepeninggalmu
Mengingatmu terasa sisa sakit menghujam benak ini
Dan bagai tukang parkir, aku menantimu
Di antara lalu lalang kenangan
Barangkali kau akan letih dan kembali
Bekasi, 3-12-2013
Benarkah
Benarkah pada setiap perjalanan
Matahari menyandar di kaca jendela
Sewaktu gerak mobil meninggalkan batas pagi
Dan bulan harus jadi bagian nostalgia
Tanpa ironi dan terlipat sendiri dalam awan-awan tipis serupa kasur kapas
Setelah pagi berlanjut ke siang
Sudah pasti arah roda menerjang terik aspal
Matahari nyata melambai-melambai bagai bendera
Mata sepertinya terlarang memandang terlalu lama, apalagi mendalam
Sebab fatamorgana pada kejauhan merenggut
Arah tuju yang masih menyusuri permukaan kota
Benarkah bulan akan ada nanti
Selepas batas kota saat petang
Bulan kemuning tak berbayang ilusi
di antara deret bangunan-bangunan gelap
Lalu, nostalgia seperti mendekat
pada tempat kembali
Bekasi, 29-10-2013
Perpisahan
Dalam bis luar kota di antara rimbun malam. Bahasa perpisahan barangkali harus tercipta. Setelah angin dingin merangkai huruf-huruf air mata di kaca depan. Mata ini berkenan membaca. Lalu, menghapus diam-diam. Agar tahu bila telah sampai terminal. Sebab, seorang tua berdiri menunggu di ruang tunggu. Seorang tua yang bergerak menjaga lampu-lampu terminal dari remang.
Berjam-jam dalam bis luar kota. Dorongan-dorongan menuntun melintasi marka yang pernah dilintasi ambulans. Perempatan membuat hening sesaat ketukan-ketukan dalam dada menghela napas panjang. Berat. Mendesak. Kau menjerit sedemikian keras, belum pernah aku mendengar. Sebuah roda truk melindas sebuah nama dan berhenti begitu saja depan warung kopi. Aku menikmati aroma darah bercampur kental panas kopi. Merasuk begitu saja dalam kecemasan.
Sebuah isyarat gerakkan lengan kekar sopir. Begitu saja menghindar. Begitu saja berbelok memasuki terminal. Sekumpulan malaikat menunggu dalam terang benderang terminal. Penumpang sibuk berbenah. Mengemasi bayangan di kaca jendela. Berebut turun. Sedang malaikat mengawasi. Mencari satu nama.
yang membawa tiket gelap untuk tujuan: perpisahan.
Bekasi, 26-11-2013
Pada Geram Roda Kereta
Pada geram roda kereta berderit
nyaring peluit menyapa kekosongan
Sungguh aku sudah tak sabar lagi
memasuki keteduhan terakhir
Lalu, lintasan-lintasan yang terkapar angkuh
Sepanjang waktu terlindas di setiap pindahan
Aku menyimpan sebuah nama
Dan berdiam pada sebuah tempat
Perjalanan menjadi rahasia tersembunyi
Jejak-jejak ini meninggalkan stasiun lama
Orang-orang sibuk berpindah, menyimpan tiket, dan menghentikan perjumpaan
Sementara aku telah sampai pada keteduhan
yang menyimpan namamu
Bekasi, 22-11-2013
Orang-orang Berbondong Pulang
Orang-orang berbondong pulang
Berkendara motor di akhir pekan
Serupa sekumpulan kambing
Penuhi jalanan
Entah, siapa yang menggembalakan?
Satu per satu motor berusaha maju
Merangsek ke kiri, ke kanan
Satu per satu asap hitam mengempas
Dari tiap deru motor berkali-kali
Kota ini telah penuh karbon
Mataku pedas, napas sesak
Rupa ini apakah masih bersih?
Tanpa berlumut hitam karbon
Oh..., pejalan kaki yang gelisah di trotoar
Tak perlu keluh kesah di antara hiruk-pikuk kendaraan
Lalu, berlipat wajah menghitung hitam karbon
Kota ini terlampau lelah menampung kenyataan
Sedang jalanan membisu di antara desakan keinginan
Oh..., pejalan kaki yang gelisah menuju
Tujulah rumah-rumah yang menyimpan perempuanmu
:yang membasuh kusam wajahmu
:yang menerima rindumu
Bekasi, 2-11-2013
Seperti Sepasang Sepatu Bersaksi
Sepasang sepatu bersaksi
Antara panas dan hujan
Langkah kaki bergegas lari
Melampaui doa di awal keberangkatan
Di antara tekukan waktu
Berjeda sebentar dan belajar mengenal
Nama-nama asing yang terpampang
di papan halte. Kau tahu sendiri
sepasang sepatu perlu mengenal
bayangan yang mengikuti
Hingga berhenti pada sebuah nama
Mengenalnya sekian lama di awal berangkat
Tanpa percakapan padanya melepas sepasang sepatu
Tanpa alas kaki melanjutkan jalan
Memasuki gang-gang sempit
Dalam terang-gelap. Melanjut perjalanan
Tanpa percakapan dan teriakan tertahan
dinding lembap
Bekasi, 25-10-2013
Perjalanan
1/
sepasang roda yang telah bengkok
berhenti di jalan pulang yang telah renta
doaku yang tak tajam lurus menuju
berbalik tumpul menuju sunyi
pada angin,
aku kini termangu di tikung jalan
merenungi deru memburu waktu
sambil menerka jumlah debu
yang bercampur airmata
2/
bertangan hampa aku lepas
setelah mengabdi pada tanah yang fana
sungguh aku ingin mengucap doa-doa yang kekal
terpetik dari kesedihan matahari
barangkali aku harus memacu dan melewati
setiap kehampaan dengan rasa bersalah menaungi
sementara di tiap 1 km. aku hanya membayangkan ranjang kosong
tanpa senyum penerimaan pun nyanyian cicak di dinding
3/
di perbatasan itu
kita mencuri waktu panjang
kupetikkan untukmu kisah lalu
yang tak terekam ingatanmu
lalu kau terhanyut
dan lupa jalan pulang
Bekasi, April 2013
Dalam bis luar kota di antara rimbun malam. Bahasa perpisahan barangkali harus tercipta. Setelah angin dingin merangkai huruf-huruf air mata di kaca depan. Mata ini berkenan membaca. Lalu, menghapus diam-diam. Agar tahu bila telah sampai terminal. Sebab, seorang tua berdiri menunggu di ruang tunggu. Seorang tua yang bergerak menjaga lampu-lampu terminal dari remang.
Berjam-jam dalam bis luar kota. Dorongan-dorongan menuntun melintasi marka yang pernah dilintasi ambulans. Perempatan membuat hening sesaat ketukan-ketukan dalam dada menghela napas panjang. Berat. Mendesak. Kau menjerit sedemikian keras, belum pernah aku mendengar. Sebuah roda truk melindas sebuah nama dan berhenti begitu saja depan warung kopi. Aku menikmati aroma darah bercampur kental panas kopi. Merasuk begitu saja dalam kecemasan.
Sebuah isyarat gerakkan lengan kekar sopir. Begitu saja menghindar. Begitu saja berbelok memasuki terminal. Sekumpulan malaikat menunggu dalam terang benderang terminal. Penumpang sibuk berbenah. Mengemasi bayangan di kaca jendela. Berebut turun. Sedang malaikat mengawasi. Mencari satu nama.
yang membawa tiket gelap untuk tujuan: perpisahan.
Bekasi, 26-11-2013
Pada Geram Roda Kereta
Pada geram roda kereta berderit
nyaring peluit menyapa kekosongan
Sungguh aku sudah tak sabar lagi
memasuki keteduhan terakhir
Lalu, lintasan-lintasan yang terkapar angkuh
Sepanjang waktu terlindas di setiap pindahan
Aku menyimpan sebuah nama
Dan berdiam pada sebuah tempat
Perjalanan menjadi rahasia tersembunyi
Jejak-jejak ini meninggalkan stasiun lama
Orang-orang sibuk berpindah, menyimpan tiket, dan menghentikan perjumpaan
Sementara aku telah sampai pada keteduhan
yang menyimpan namamu
Bekasi, 22-11-2013
Orang-orang Berbondong Pulang
Orang-orang berbondong pulang
Berkendara motor di akhir pekan
Serupa sekumpulan kambing
Penuhi jalanan
Entah, siapa yang menggembalakan?
Satu per satu motor berusaha maju
Merangsek ke kiri, ke kanan
Satu per satu asap hitam mengempas
Dari tiap deru motor berkali-kali
Kota ini telah penuh karbon
Mataku pedas, napas sesak
Rupa ini apakah masih bersih?
Tanpa berlumut hitam karbon
Oh..., pejalan kaki yang gelisah di trotoar
Tak perlu keluh kesah di antara hiruk-pikuk kendaraan
Lalu, berlipat wajah menghitung hitam karbon
Kota ini terlampau lelah menampung kenyataan
Sedang jalanan membisu di antara desakan keinginan
Oh..., pejalan kaki yang gelisah menuju
Tujulah rumah-rumah yang menyimpan perempuanmu
:yang membasuh kusam wajahmu
:yang menerima rindumu
Bekasi, 2-11-2013
Seperti Sepasang Sepatu Bersaksi
Sepasang sepatu bersaksi
Antara panas dan hujan
Langkah kaki bergegas lari
Melampaui doa di awal keberangkatan
Di antara tekukan waktu
Berjeda sebentar dan belajar mengenal
Nama-nama asing yang terpampang
di papan halte. Kau tahu sendiri
sepasang sepatu perlu mengenal
bayangan yang mengikuti
Hingga berhenti pada sebuah nama
Mengenalnya sekian lama di awal berangkat
Tanpa percakapan padanya melepas sepasang sepatu
Tanpa alas kaki melanjutkan jalan
Memasuki gang-gang sempit
Dalam terang-gelap. Melanjut perjalanan
Tanpa percakapan dan teriakan tertahan
dinding lembap
Bekasi, 25-10-2013
Perjalanan
1/
sepasang roda yang telah bengkok
berhenti di jalan pulang yang telah renta
doaku yang tak tajam lurus menuju
berbalik tumpul menuju sunyi
pada angin,
aku kini termangu di tikung jalan
merenungi deru memburu waktu
sambil menerka jumlah debu
yang bercampur airmata
2/
bertangan hampa aku lepas
setelah mengabdi pada tanah yang fana
sungguh aku ingin mengucap doa-doa yang kekal
terpetik dari kesedihan matahari
barangkali aku harus memacu dan melewati
setiap kehampaan dengan rasa bersalah menaungi
sementara di tiap 1 km. aku hanya membayangkan ranjang kosong
tanpa senyum penerimaan pun nyanyian cicak di dinding
3/
di perbatasan itu
kita mencuri waktu panjang
kupetikkan untukmu kisah lalu
yang tak terekam ingatanmu
lalu kau terhanyut
dan lupa jalan pulang
Bekasi, April 2013
Sumber: http://sinarharapan.co/news/read/31145/puisipuisi-fitrah-anugerah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar