Translate

Jumat, 28 November 2014

Antologi Puisi “Surabaya Di Lembar Kenangan” (Karya 6 penyair) dalam ulasan DR. Tengsoe Tjahjono, M.Pd

MEMPERTAHANKAN LOKALITAS SURABAYA DALAM PUISI
Oleh : DR. Tengsoe Tjahjono, M.Pd.

    Kota dan puisi merupakan dua entitas yang memiliki hubungan khusus. Banyak penyair yang tergoda untuk menuliskan pengalamannya bergaul dengan sebuah kota ke dalam puisi-puisinya. Kota dengan segala keunikan dan rahasia yang dimilikinya sering memberikan inspirasi bagi penyair. Penyair bukan hanya tergoda untuk mengekalkan yang indah dari sebuah puisi, tetapi juga mengkritisi segala yang kurang baik dari sebuah kota, entah kritik terhadap tata ruang, tata kelola, dan sebagainya. Di sisi lain, sebuah kota memerlukan penyair sebab puisi bisa hadir sebagai catatan abadi dan cermin yang bagus bagi eksistensi sebuah kota.
    Antologi Puisi “Surabaya, di lembar kenangan” juga lahir dengan latar belakang seperti itu. Ada 6 penyair dalam antologi ini yaitu Hasan Bisri BFC (Jakarta), Pipie Johan Egbert (Surabaya), Yanie Wuryandari (Jakarta), Baby Anis K (Tokyo), A.Rahim Eltara (Sumbawa), Fitrah Anugerah (Bekasi). Mereka berenam merupakan sosok yang pernah bersinggungan dengan kota Surabaya entah karena pekerjaan maupun karena memang tanah kelahirannya. Ada di antara mereka sekarang ini yang sudah meninggalkan kota Surabaya namun masih memiliki catatan khusus mengenai kota tersebut.
Hasan Bisri yang ketika di Surabaya berkegiatan menulis, entah sebagai wartawan atau sastrawan, banyak menuliskan perjumpaannya dengan pelbagai fenomena, entah orang, tempat, atau peristiwa. Makam Mbah Bungkul, Taman Bungkul, Kantor Surabaya Post, Monumen, Kenjeran, Budi Darma, Suripan Sadi Hutomo, dan sebagainya dia tulis sebab fenomena-fenomena itu amat bernilai bagi Surabaya.
Pada puisi "Di Rumah Budi Darma" ia menulis: 
Pada akhirnya sampai juga di muara hatimu/ setelah berpayah mengarungi arus pikiranmu/ meski harus menelisik lagi/ rumit rimpang peta perjalanan/ yang kaugambar di atas lembar katakata/dan kenangan. 
Pertemuan dengan Budi Darma merupakan peristiwa yang amat berarti karena Hasan Bisri bisa secara langsung mengenali Budi Darma bukan hanya lewat tulisan. Menyelami pikiran seseorang memang tidak mudah, demikian menyelami keunikan Surabaya.
Dalam puisi "Veteran" Hasan Bisri mengritik secara lembut bagaimana Surabaya yang Kota Pahlawan itu menghargai para pejuangnya. Ia menulis: 
ketika perang usai/ ia menganyam rumah dari sayatan bambu runcing/ senjata yang dulu membuat kalangkabut Belanda/ dan diabadikannya ia dengan Setya Lencana/ benda keramat yang kelak bukan apaapa. 
Puisi ini sangat ironis dan satir. Banyak veteran yang justru menderita di masa kemerdekaan, apalagi di Surabaya. Bagi para veteran sebenarnya satya lencana bukan yang diperlukan. Yang mereka butuhkan adalah kehidupan yang layak, yang tidak hanya membangun rumah sari sayatan bambu runcing.
Bagaimana pula puisi Pipie Johan E yang pernah berkarya di bidang media radio ini? Tampaknya Pipie Johan rajin mencatat tempat-tempat istimewa di kota Surabaya. Banyak tempat di kota Surabaya yang tak ingin lewati begitu saja. Dalam puisinya :
"Membuang Jemu di Tepian Pantai Kenjeran" ia menulis: 
Di pantai Kenjeran tengah hari dengan angin melintas/ 
udara berbaur bau ikan terhirup bebas/ 
di hening pantai kubuang jemu atas rutinitas,/ 
menerbangkannya bergegas/ 
bersama camar yang datang sepintas/
lantas terbang lepas. 
Puisi ini sangat deskriptif. Puisi yang secara cermat menuliskan apa yang terindra oleh penyair. Ia melukiskan angin melintas, bau ikan, dan burung camar yang bergegas sebagai gambaran begitu dekatnya dengan alam. Mengapa? Alam yang indah dapat dihadirkan sebagai tempat melepas katup kejemuan karena tumpukan rutinitas. Dan, Surabaya memiliki tempat-tempat seperti itu.
Dalam puisi "Surabaya Setia Menampungku Pulang" Pipie Johan menulis:
Pintu Surabaya bagiku tak pernah tertutup dengan palang / 
senantiasa terbuka siap menampungku pulang/ 
sejauh manapun melangkah, Surabaya setia terjaga untuk menimang/ 
kala mengadukan perih luka perantauan dan nestapa yang panjang.
Puisi itu menunjukkan bahwa betapa ramahnya Surabaya bagi warganya. Surabaya memang sebuah kota terbesar kedua di Indonesia. Namun, Surabaya tidak memberikan kesan angkuh dan sombong. Bahkan, sekarang ini taman-taman indah dibangun di pelbagai tempat, membuat Surabaya menjadi sangat menyejukkan bagi warganya. Arsitektur kota Surabaya tampaknya masih mengedepankan pentingnya ruang hijau terbuka demi kenyamanan bersama. Oleh karena itu, sejauh-jauh seseorang pergi mengarungi hidupnya, toh Surabaya tetap akan menerima ketika mereka rindu pulang.
Yanie Wuryandari, seperti penyair lain, juga menuliskannya kedekatannya dengan Surabaya. Penyair yang pernah menjadi penyiar Radio Wijaya ini bukan hanya menuliskan keindahan Surabaya, tetapi ia tulis juga kegetirannya. Misalnya dalam puisi "Jembatan Suramadu Itu" secara utuh ia menulis seperti berikut ini.
JEMBATAN SURAMADU ITU
kemudian melesat matahari
jatuh ke dalam selat
mimpi-mimpi
membiru menjadi guratan sepi
bahkan saat jembatan garang itu
telah terpancang
kita telah tandas tenggelam
jauh ke dasar kehidupan
tak terjembatani lagi
mimpi masa lalu dan masa nanti
Memandang Suramadu bukan hanya terjebak pada kemegahan yang ditampakkan, tetapi juga dampak lain yang mungkin akan ditimbulkan. Bisa jadi karena Indonesia merupakan negara bahari, kehadiran jembatan penghubung antarpulau sesungguhnya sangat ironis. Pelaut membutuhkan kapal, bukan jembatan. Maka, Yanie memandang mimpi membiru menjadi guratan sepi oleh kehadiran jembatan tersebut, mimpi pelaut untuk menjadi bangsa pelaut yang besar.
Dalam puisi "Mekar di Bandara Juanda" Yanie menulis puisi yang romantis walau tetap menghadirkan latar kota Surabaya. Berikut ini puisinya.
MEKAR DI BANDARA JUANDA
ada gemuruh berlomba riuh
saat roda-roda rindu menyentuh kalbu
menuruni tangga demi tangga memeluk debar
langsung ke bumi hatimu yang tak henti bergetar
hangat apron juanda mengibar-ngibarkan nyala
membakar dalam pesona yang alpa untuk reda
ini tiketmu -katamu- menuju ke hatiku
ini pipiku -kataku- sentuhlah kapan saja kau rindu
Puisi tersebut menuliskan perpisahan yang menggetarkan. Ekspresinya menjadi amat khas karena Yanie memakai latar bandara secara cermat untuk menggambarkan suasana batin "aku lirik": roda - tangga - apron - tiket. Kepiawaian dalam hal menangkap kata dan memakainya untuk melukiskan suasana hati merupakan pembeda puisi Yanie dengan penyair lain dalam antologi ini. Puisi-puisi Yanie mampu menjadi jalan refleksi dan mawas diri.
Dalam antologi ini juga menampilkan puisi-puisi Baby Anis K. yang pernah menjadi penyiar radio dan guru. Puisi-puisi Baby tampak kuat pada nafas kristianinya. Misalnya puisi berikut ini.
DENTANG LONCENG PREGOLAN BUNDER
Dentang lonceng tiga kali
Sayup-sayup ditiup angin bulan Desember
Memanggilku memasuki ruang teduh
Mengucap janji pengakuan iman 
Untuk berjalan di ladang Tuhan.
Ladang itu tidak subur
Ladang itu perlu pekerja
Dan aku siap menanam benih di tanah terjal
Lonceng dan kubah tua Gereja Pregolan 
Menjadi saksi perjalanan ziarahku
Melintas batas dan budaya
Seraya menanti masa panen tiba.
Puisi tersebut berisi bagaimana aku lirik menjawab panggilan Tuhan untuk berkarya di ladang-Nya. Dunia ini merupakan ladang Tuhan, aku lirik merasa terpanggil untuk menjadi pekerja di ladang itu. Dan, bekerja di ladang itu bukan pekerjaan mudah karena bukan merupakan tanah yang subur. Relasi antara aku - dunia - pekerja - Tuhan merupakan relasi religius yang ditulis secara terbuka dalam puisi ini. Puisi dengan nafas kristen juga terdapat dalam puisi Baby berikut ini.
MELATI DI GANG DOLLY
(mengenang sahabatku, Evangelist R.H)
Seperti kuntum melati mekar, terjepit di antara aneka bunga artificial
Sekilas tak berbeda paras ayunya
Rasa ingin berguru padamu di waktu itu
Membawaku dalam pencarian panjang
Menyisakan teka-teki di senja hari
Sampai kutemukan perteduhanmu
Tersembunyi di sela-sela gemerlap lampu dan hingar bingar semu
Menyempil di sudut gang yang tak pernah lengang
Kakiku terhenti di depan rumah mungil berdinding kayu
Bertuliskan “RUMAH TANGGA BAIK-BAIK”
Aku termangu dalam ketukan yang terakhir
Ada kalanya sebuah pengumuman dan pernyataan
Menjadi dewa penolong
Daripada berdiam diri
Puisi tersebut dipersembahkan kepada sahabatnya seorang evangelist, pewarta kabar baik. Tampaknya temannya itu tinggal di perkampungan Dolly, sebuah kompleks pelacuran di Surabaya. Tulisan "Rumah Tangga Baik-baik" yang tertempel di pintu memang menjadi ironis sebab 'baik' yang sesungguhnya nilai pribadi biasanya terpancar lewat perilaku nyata. Hanya saja di tempat yang hiruk pikuk seperti itu tanda-tanda lahiriah sungguh diperlukan. Puisi-puisi Baby banyak berupa komentar atas fenomena atau peristiwa yang terjadi di Surabaya.
Penyair A. Rahim Eltara juga pernah tinggal di Surabaya dan kini bermukim di Sumbawa Besar. Ketika dia berada di serambi musholah DKS pada tahun 1999 puisi berikut ini.
KEPAK SAYAP FARDHU
Bulu sayap rasa 
gugur menancap di lengan nurani
kepak sayap fardhu menggetarkan senar biola batin
langkah digegaskan menuju rumah-Nya 
sujud merendah dalam takbiratul ikhram
Puisi Rahim ini juga kental nafas religiusnya. Rahim justru menuliskan kelebat batinnya, bukan menuliskan apa yang diindra. Puisi ini menunjukkan bahwa fenomena atau peristiwa merupakan pintu masuk untuk mensyukuri nikmat Tuhan dan menakjubi kebesaran Tuhan. Bahkan, dalam penggalan puisi berikut ini Rahim seakan menyadari kehadiran Tuhan di mana-mana, termasuk di dalam mall.
MEMASUKI SEBUAH MALL
WAJAHMU TERBINGKAI DI MANA-MANA
Aku melintas di ujung cahaya memasuki sebuah mall
Harum parfum beraneka merk simpang siur terbawa napas udara 
seola-ola kita berhadapan, saling menatap dalam-dalam. Dekat sekali.
Wajah kita hampir bersentuhan, napas letih tertukar di cakrawala.
Lalu kita bermain kejar-kejaran di antara belantara halaman
kitabmu yang terpampang di estalase. Kemudian aku melepas pakaian satu persatu
dan mengganti dengan trend mutakhir, mirip sekali dangan jubahmu.
Aku jadi terkesima memandang tumpah rua cahaya yang memancar dalam diammu.
Kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam segala perilaku tentu menjadi sangat baik bagi jejak langkah manusia. Lebih-lebih jika ada kehendak untuk selalu menghadirkan Tuhan. Kesadaran seperti itu akan memperkecil tindakan manusia yang menyimpang dari jalan kebaikan. Tampaknya kota Surabaya yang menyuguhkan hingar-bingar bisa saja tidak menjebak manusia ke dalam tindakan menyimpang asal manusia memiliki kesadaran ketuhanan yang terjaga. Surabaya menjadi keras dan beringas bagi manusia yang tidak menyiapkan diri menamengi dirinya dengan perintah atau Sabda Tuhan.
Penyair terakhir yang terdapat dalam antologi ini adalah Fitrah Anugerah. Penyair kelahiran Surabaya ini sekarang berdomisili di Jakarta. Peristiwa-peristiwa kecil yang dialaminya ditulisnya dengan bagus. Misalnya puisi berikut ini.
PADA SEBUAH TAMAN KOTA
Di kotamu tak ku temukan kupu-kupu
Semenjak pelangi telah bersemayam
Dan tetes hujan menjadi keruh
Bersarang di hampar taman; ditimpa remang lampu
Dia menuliskan keadaan yang sesungguhnya menyedihkan. Di kota tak ada lagi kupu-kupu. Mengapa demikian? Sebab kupu-kupu memerlukan bunga, bunga memerlukan taman, taman sudah mulai berkurang karena kalah dengan pembangunan gedung-gedung. Bahkan, udara yang sudah tidak sehat membuat tetes hujan pun menjadi keruh. Dan, itulah keadaan kota besar. Di samping kemajuan yang dipamerkan, tetapi sekaligus menampilkan sisi-sisi murung dari kemajuan itu.
Fitrah juga menulis sebuah konteks budaya lokal yang menarik yaitu warung kopi giras. Tentu fakta ini merupakan bentuk antitesa terhadap gemerlap kota. Berikut puisi tersebut.
WARUNG KOPI GIRAS
Ia datang saat mata larut
Dalam secangkir kopi
Ia bercerita tentang arah angin
Yang menyimpang jauh 
Ia sendiri tak meyakini
Sebuah pertemuan
Secangkir kopi giras mencatat arah angin yang menyimpang jauh. Bisa jadi antara modernisasi dan tradisi lokal sudah berjalan dengan arah berlawanan. Dan, aku lirik tidak meyakini lahirnya sebuah pertemuan antara dua hal tersebut. Mau jadi apa kelak arsitektur kota Surabaya, kita semua bertanya. Kini, warga Yogyakarta mulai gelisah ketika budaya lokal mulai dikalahkan dengan berdirinya hotel-hotel besar dan jalan-jalan sudah dipenuhi wisatawan. Bagaimana dengan Surabaya? Akankah Surabaya juga akan kehilangan identitasnya?
    Enam penyair telah menuliskan segala kebanggaan, ketakjuban, dan sekaligus kegelisahan mereka atas Surabaya yang amat dicintai. Puisi-puisi dalam antologi ini memuat segala persoalan kota besar yang dikemas dengan cara sederhana. Surabaya boleh tumbuh menjadi kota megapolitan, tetapi hendaknya jangan tinggalkan nilai-nilai lokal yang indah. Jangan identitas lokal Surabaya lenyap digerus globalisasi.
Seoul, 7 November 2014
DR. Tengsoe Tjahjono, M.Pd.
Pengajar di Unversitas Negeri Surabaya
(Sekarang sedang menjadi dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies Seoul Korea).

sumber: https://www.facebook.com/rozuno.kaori/posts/365281676972412

Tidak ada komentar:

Posting Komentar