Translate

Minggu, 17 Juli 2016

Sastra mata Banua: 05 Februari 2016

https://www.facebook.com/sastra.matabanua/media_set?set=a.310074142481182.100004357964107&type=3

Fajar Sumatera 05 Februari 2016

http://jedavu.tumblr.com/post/97251196756/stunning-paintings-by-nielly-francoise


Selingkuh

Senantiasa aku selingkuhi malam
dengan cumbu pijar warna lampu kota
lalu kulumuri tubuh dalam aneka wangi kejalangan.

Aku tahu tangan akan merayap,
merayap temukan engkau
bersemayam di atap gedung

Bulan memohon pada kukuh gedung agar mengusirku dari pintu lantai pertama.
tapi mulutku terlepas dari busur kembaraku. Meluncur menjadi perintah bagi awan.
Arakan awan menikam bulan lalu penjarakan di ruang asing langit.
Oh bulan menangis sesenggukan, meratap pada pintu pagi

Begitulah aku perlakukanmu pada tiap pertemuan di atap gedung
Aku rasa engkau jatuhkan airmata bagai air terjun di alur jalan kota,
Aku lumuri gedung dengan bening dukamu. Tapi engkau gentayangan
dari tiap atap gedung menggariskan duka pada pendar wajah iklan

Dan aku sibuk membuka wajahku yang pekat berlumur
lalu kubersihkan wangi kota dengan air mata batin
luka menempel di putih hati menjadi noktah warna-warni,
tapi aku akan selingkuhi pijar kota dan merayap mencari engkau.

Bekasi,13-01-2015



Kelahiran Tak Diharapkan

Ingatkah saat lautan
uapkan panas lalu kau ingin
melayang ke langit. Temui bocah
sendirian bermain di awan berpasir

Dia akan kering bila kau tak hadir
punggung mulusnya dijilat matahari
yang tahu dia sendirian, tak berayah dan ibu

rengkuh. Gendong, dan bawa dia ke gundukan awan
yang matahari tak pernah bisa mengejar walau hanya
menyapa saja

Ingatkah uap rindu yang kau layangkan berkumpul di kering awan
mengumpul menjadi telaga.bocah itu tersenyum lalu menyelam
di kedalaman mencari jejak ibunya.
matahari lelah menunggu di tepian dan bulan memanggil dia

Bocah itu menangis tak temukan jejak ibunya
Bocah itu tumpahkan air telaga melacak lagi
jejak ibunya. tapi kosong dan air tertumpah
ke lautan yang surut. Oh dia akan turun ke bumi
menuruni tangga pelangi bila terbit pagi

Ingatkah jika pagi surutkan mimpimu
: mendengarkan rengekan bocah yang melihat pasir pantai

Sebab bocah itu ingin bermain bersama karang
yang menyimpan kepiting nyasar.
Bocah itu ingin menuju laut mengejar ombak
yang pernah membawamu hilang

Bekasi, 21-12-2015


Bila Engkau Pergi

Bila engkau telah temukan dua sayap
engkau pasti pergi seiring mentari
yang ngajak arungi langit.

Engkau melebur dalam angan tak terbatas
lalu berumah di ketinggian mimpi
lepas dari perangkap bumi
lalu waktu buatmu rindukan kembali
pada manisnya.

Kiranya tetes hujan membuka kenangan
engkau yang menghilang menjadi pelangi
berwarna-warni taburkan senyum,
tergaris di langit berikan sedikit damai
namun kau mesti kabur bila mentari muncul

O sedih itu masih menyisa
membanjiri seluruh ruang sepiku
mengendap di lenggang waktu, mengental pekat.
Sudah tak ada lagi secangkir kopi dan ceritamu
di meja buatku di malam ini, di waktu hujan.
Bekasi, 13-01-2016


Ibuku yang Kesepian

Ibuku yang kesepian di hari sore
merintih pilu saat pergiku
bagai angin hantarkan tetes air ke jendela rumah
dia tunggui malam di antara terang bintang
berharap ada kabar memecah sepi hati

Sang bulan telah menelan aku
lalu deru angin enggan memberi kabar
aku terlampau jauh meninggalkannya
tapi kau masih menjaga harapan

Ibu yang kesepian di hari pagi
lihatlah aku pulang, membawa airmata
dari pengembaraan teramat lelah
lalu kusiram pada jiwamu yang layu
oleh waktu. Oh kiranya ibuku bangun
tapi kau sudah terlalu tua untuk menungguku

Bekasi, 25-12-2015


Bapakku



Di atas bumi kesederhanaan kau tanam perhatian
menetes dari setiap harapan yang kau tunggu setiap malam
setelah kami tertidur. Tercurah gerak pada setiap jalan waktu
kau jaga kami hingga tumbuh lalu berbuah
kau rubuh menghilang tertutup rimbun kembang

Kau bapakku goyangkan kerinduan ini
pada malam mengikat ranting semangat ini menjadi kaku
lalu siang mekarkan angan di setiap hembus angin. Kau hanya cerita
terasa jauh tapi kucium bijibiji yang tlah tertanam
oh ku mau tumbuhkan harapan tapi terasa jauh
jauh dari bumi tempat kau menanam

Kau bapak arah waktu buatku lari dari tempatmu berdiri
pergi nuju ufuk terbit mentari. Ada kesepian
diantara panggilanmu. hilang seiring panas cahaya
aku datang padamu dari bumi yang sudah tak sederhana lagi.

Bekasi,17-12-2015

http://www.harianfajarsumatera.com/2016/02/sajak-sajak-fitrah-anugerah.html

Riau Realita 26 Juni 2016

https://art.alphacoders.com/arts/view/83216


Adakah

adakah yang serupa licin jalan sehabis hujan
sedang hati menyimpan kerikil dan curahan duri
terhujam sepanjang sorot waktu tajam menukik
sedang mata silau pijar lampu jalanan

adakah harapan terhunus sorot langit
rasa luluh melabuhkan tanya pada hati
menyimpan remang. Akhirnya berseteru
bertalu menabuh tiada habis. Di pucuk meretak

adakah pandang mengenang kesia-siaan
sungging tertahan di tatapan kosong
sedang mimpi tak menyimpan retakan hati
genting nuansa. Gugur tak diharapkan

Bekasi, 2016



Meditasi

semuanya terungkap dalam labirin malam,
gelap lebih dari pikiran yang mati
sedang kita saja gugup memaknai nuansa
diri tercekat, tak kuasa mengucap

yang ada hanya mendiamkan pandangan
dengan gumam semakin tak berujung arah
mungkin terpikir murung, mengecil menjadi hening
sementara semesta mengarti lain, menegur-sapa
ke segenap lubuk hati. terasa ringan, entah terbang?
atau menukar angin dengan waktu hampa

Bekasi, 2016



Pemabuk dan Sebuah Taman

seonggok botol sisa kau mabuk semalam
tercecer bungai merangkai satu-persatu kata pilu
dengan muka pedas kau mengutuki burung
yang tak bersahabat dengan mata setengah meredup

“apakah kau meletakkan mimpi kota?”

cercaanmu berlalu dengan sedih. sedang lampu menjelma
patung penghias lelah. lalu ruap-ruap kantukmu
menjelma aku menjadi bayang merasuk ke dalam matamu
sekiranya kehadiran lebih mencekam sebelum tidur
aku ada seakan puisi yang terjaga menjelang pagi

Bekasi, 2016



Sebelum Aku Menyepi di Pinggir Tubuhmu

Sebelum aku menyepi di pinggir tubuhmu
izinkan aku mengunci pintu gerbang kelelakian
- bisa saja seekor ular menyusup  sekejab
memelukmu dalam lengah

Kau akan tahu tak  ada riuh sesudah terkunci
desis terhalang rekat bambu
kita merasakan sunyi tanpa ngilu
hanya mengalami liar angin mendekam di daun
membuatkan sayap; menerbangkan setiap helai di awang-awang

Tubuh cukup menunggu bila  jatuh diam-diam
seperti airmata kembali berumah
dan aku ingin menyepi di pinggir tubuhmu

Bekasi, 2016



Cerita Cinta

Pernah kupatahkan cinta. Di saat cinta telah bersayap sempurna. Dan telah menjangkau sudut-sudut tabu. Melewati perbatasan waktu. Hingga menghiasi hamparan langit.

Pada cinta yang sudah kupatahkan dengan pisau dapur. Terberai melantai. Tanpa kucur darah. Tanpa tangis keluar terlepas. Memasuki lubang-lubang pembuangan. Sepertinya menjelma hantu. Kelak gentayangan antara bau busuk dan wangi. Rasanya akan menyusup dalam ingatan. Dan bayangan masa lalu.

Cinta yang terkenang dan berakhir. Perlahan terkubur dalam kibas udara kamar. Sementara lukisan air mata ini menjelang pudar dipendar cahaya. Tak ada rintihan tenggelam di alun nada riang. Ingatan tentang menjadi keraguan di antara hitam-putih dinding.
Sebentar lagi. Ya sebentar lagi akan berdiam sepi. Tanpa menyesali pertemuan. Hanya isyarat dari malam yang menua. Dan nyamuk yang terkapar tanpa sayap.

Bekasi, 2016



Sentimentalia

Ada kebuntuan di antara kesetiaan
Dan pengembaraan pikiran kosong
Hiruk-pikuk tenggelam jalur gelap
Prasangka menimbun. Oh sia-sia

Seperti senja lindap dalam pepohonan
Aku mengawal serangkaian upacara kebengisan
Bulan memanggil arwah srigala dan leluhur
Sedianya berpesta-pora di perbatasan

Aku menghitung berapa kesunyian lenyap
Terbawa gerombolan penyamun. Oh malam ini
Menuju puncak gelisah. Sedang layar telah terbentang
Sebentar lagi  meninggalkan aku yang tertambat
Pada sebuah karang

Bekasi. 2016


http://riaurealita.com/mobile/detailberita/2844/puisipuisi-fitrah-anugerah

Langgam Sumut Pos 03 Juli 2016

http://venlifsvessl.blogspot.co.id/2012/03/gambar-naturalisme.html



Pengharapan

sebelum kuntum terbuka
menggeliat daun menyatakan
ruas-ruas kembang santun terpandang
ranting dari jengah tak terpatah serasa
menyimpan aliran air dalam perigi panjang
tersembunyi dari sangka merapuhkan
sebagaimana kata melalui tanpa sangkut
berbelok pikiran pada nujum dusta
menuju degub jantung memanggil keras
tanpa pupus meski terdesak lantun ayun hati
pengharapan berseteru di antara silau bunga
dan keteguhan tak meretak waktu  terpajang.
Bekasi, 2016

Suara

dari jauh suara memanggil
menyisir ke paling tepi tebing
hampir jatuh.meraba batu-batu
kesunyian menghangat
dan kesendirian yang dipunya
gugur satu-satu, melahirkan puisi
tidak dengan sia-sia, membenamkan jerit
mungkin merasuk dan membuka diam-diam
melebarkan batas tak jelas untuk sesuatu
yang patut dibisikkan hingga mencermati
dalam keliaran berlalu kembali tak ada
Bekasi, 2016

Senja di Pasar Tambun

berita ekonomi di koran kumal
telah terbaca petugas pasar
membungkus jasad lalat hitam
yang mati menghirup busuk bawang
jerit bakul terlepas di lorong-lorong pasar
menanda akhir terasa sia-sia menaruh hati
buat waktu yang menyusut begitu mengerikan
bagai kering cabai merah di temaram lampu
melenyap tanpa pesan
tangan telah lama menampung muntahan kerugian
hingga sosok gelap bunyikan kaleng kosong
memanggil orang-orang di lapak sepi
dan saatnya berpulang sebelum petang
menggoreskan bayangan suram buat esok
Bekasi, 10-06-2016

Cerita Sunyi Semalam

Sengaja aku gelayutkan sepasang cerita di atap rumah gelap. Kau tahu sendiri, aku tak begitu suka pada gantungan lampion di beranda. Mengingatkanku pada jejak kunang-kunang yang menerka usia leluhur. dan  aku enggan  menafsirkan sendiri kilapnya dalam remang.
Buat itu aku membakar serbuk wewangian, ditambah menjaga terang lilin. Selepas itu harapan memaksa  sunyi, keluar dari persembunyian. Tak peduli bila malam-malammu terganggu keberisikanku mendengungkan mantra.
Aku ingin pulang, setelah rangkaian sunyi tersusun. Menjelang pekat pagi. Kupikir hatiku akan melayang serupa sepoi angin. Tak peduli pada gaduh yang mengenang peristiwa semalam. Aku telah cukup mengambil sebagian.
Bekasi. 2015


Pengembara Hati

Aku mengumpulkan serakan daunan
Di setiap jalanan yang telah  dijejaki rembulan
Berapa jumlahnya tak pernah terhitung
hanya penuhi kosong keranjang
lalu menghindar dari sapa peronda malam,
sebab pasti  menangkap gelagatku
dan menahan dalam rumah sunyi,
tanpa terjangkau isyarat rembulan
hingga pecah bunyi kentongan terakhir
: Ah pengembaraanku belum berakhir kawan.
Bekasi. 2016
http://www.langgamsp.com/2016/07/03/6633/puisi-puisi-fitrah-anugerah/

Minggu, 11 Januari 2015

Harian Rakyat Sumbar. Lembar Sastra Sumbar. Tgl. 10-01-2015








Lupa Jalan Pulang ke Kotamu

Di kotamu panas mengiring desir angin.
Mengikuti kemana pejalan pergi
Gemuruh rindu beradu tatap biskota

Di tujuan mana tempat berpulang
Sedang keringat mengalir perlahan
memberi isyarat pada laut seberang
Yang menyembunyikan kupang di selipan

Mata ini tak terpejam. Takut kehilangan
Pada kenangan sepanjang jalan
Tentang sebuah tugu penyimpan sejarah
Dan makam suci tak henti orang berziarah

Tapi aku telah kehilangan nostalgia
Pada sepotong kata penyambutan orang asing
Atau telingaku telah berbeda tak lagi mencerna
Sebuah kata perpisahan di awal  sebelum aku pulang
Ke kotamu


Bekasi, 2014


Cincin Kawin

Cincin kawin  pertanda musim menjangkau waktu,
sebentar lagi  tertekuk sebaris besi kuning ikatan
setelah itu gerhana perasaan akan bermain
serupa kanak menyaksikan senja muram

Tak ada yang salah hanya gaduh saat terakhir
entah merekat, entah memecah
tentu saja harus ada yang tertinggal
dan  membekas sempurna
:  kenangan.

2014

Gelang Emas

Bulan purnama, bulan pertengahan,
Tinggal kunang-kunang merintih

Di  semilir gerak, diayun rencana
Perawan menghitung ukuran rindu

Di takaran hati terikat gelang
Tak pernah ditawar telah menanda
Tentang angin malu-malu mengiring mendung

2014

 Diam 

Bila angin tak bertiup 
mengering jiwa 
gugur harapan 
tak bisa berucap 
menunggu takdir 
melepuh di hamparan 
dan langit hanya diam 

Sepintas pandang langit 
menghitung hujan yang pernah keluar 
dan maaf aku tak bisa mengingatnya 
karena tak ada lagi angin yang bertiup. 

Bekasi,2014



Gambar ambil di sini : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEitu4zgFc0cpqPh7CdDVnEfoq5JH0n5m4hPh7Zl3ERwIpaDguEY5rSWlQ-zp1sJKEAM3jpsAHIqPMMo9LlD__u7Zv1_73L93x0dOjqTkP44pLeG5HuB7iICVg1ymTrXTYR9bGODebQZXdM/s1600/Blue+Horizon.jpg





INDO POS Tgl. 10-01-2015




Kuntilanak 

Bulan menikam sepiku 
mengoyak kebekuan 
hati ini terbakar pada 
ganas rindumu. 

Telah lama angin sampaikan kabarmu 
pada nyanyi rindumu yang mengiris gendang telinga 
menegakkan bulu kuduk. tentang kekasih yang kabur 
dibawa roda gila, ia pergi setelah hempaskanmu 
dalam tanah merah. 

Telah lama ingin seret aku ikuti permainanmu, 
menari diantara sepi malam, 
menyanyi dalam temaram lampu bulan, 
tapi aku takut terbakar, meledak menjadi bintang 
bisingkan malam yang sepi mulanya 
oh aku takut meleleh, 
habis 

Bekasi, 2014

Melepasmu 

Sebaiknya kulepas kulit bawang 
satu persatu 
lalu mengiris-ngiris sepotong-potong 
air mata meleleh, tangan bebekas noda 
aku puas selesaikan satu bagian rasa 
meski pisau tak jadi mengoyak hati 

Baiknya kucabut duri di tangan 
setelah kagumi mawar
yang tak pantas kupegang 
pedih. tangan terluka tapi cukup buatmu 
mengucur di hampar genggamku dan patah 

Aku pamit dari hatimu seperti pengembara 
tak tahu diri. begitu mudah ku lepas pelukan 
hingga tangan tak mau nadahkan kasihan. 
pergi tanpa beban pedih dan bibirmu adalah 
rasa rindu yang tak sempat tercium 

Bekasi,2014


Senja di Pelabuhan Semayang

dalam tenang pantaimu, kuantar gelisah 
dari jauh pelayaran, berteman iring ombak 
dan gemuruh angin selatan.Lajukan pesan 
saat kau singgah di kotaku. 

laju perahu temukan pendar cahya suar 
terselip di sela karang gelap. 'inikah labuh terakhirku' 
terasa pesanmu menjepit arah bagai ikan terjaring pukat 
terpikat rayu pulaumu dan canda pencari ikan. 
oh aku terperangkap di sisi manis semayang 

begitu rapuh aku mendaratkan gelisah.ku tahu 
kau menangkap kelemahanku.hingga tombak 
menusuk leher. pelan-pelan darah mengalir 
menuju arus laut selatan. belayar kembali 

aku menjadi asing di semayang, tanpa kepala 
yang tertimbun ingatan awal. dan tubuh 
bersemayam di rimbun gelisah kotamu. 

Balikpapan,2014

Suatu Hari Di Sepinggan

Sepinggan beribu kesedihan selubungi langit, 
tetes airmata sia-sia.lenyap terserap kering tanah 
hingga aku terbang nuju awan. menghilang lama 

Sepinggan ku telah pergikan seribu catatan 
tentangmu. terkubur di remang bintang dan bulan 
iringi penguburan. tak ada api unggun 
dan hymne kematian. kehilangan wajar adanya 
sebab surya tak sudi buka catatanmu lagi. 

Mungkin badai kelak mengeja 
setiap nyanyi piluku buatmu 
mengalun bagai pendaratan 
terakhir di ujung musim 

Balikpapan,2014




Gambar ambil di sini : http://blog-senirupa.tumblr.com/post/67844640405/surealisme-dan-fantasy-digital-painting-karya
























Minggu, 21 Desember 2014

Banjarmasin Post. Minggu, 21 Desember 2014




Senja di Pelabuhan Semayang

Dalam tenang pantaimu, kuantar gelisah 
dari jauh pelayaran, berteman iring ombak 
dan gemuruh angin selatan.Lajukan pesan 
saat kau singgah di kotaku. 

Laju perahu temukan pendar cahya suar 
terselip di sela karang gelap. 'inikah labuh terakhirku' 
terasa pesanmu menjepit arah bagai ikan terjaring pukat 
terpikat rayu pulaumu dan canda pencari ikan. 
oh aku terperangkap di sisi manis semayang 

Begitu rapuh aku mendaratkan gelisah.ku tahu 
kau menangkap kelemahanku.hingga tombak 
menusuk leher. pelan-pelan darah mengalir 
menuju arus laut selatan. belayar kembali 

Aku menjadi asing di semayang, tanpa kepala 
yang tertimbun ingatan awal. dan tubuh 
bersemayam di rimbun gelisah kotamu. 

Balikpapan,2014

Suatu Hari Di Sepinggan

Sepinggan beribu kesedihan selubungi langit, 
tetes airmata sia-sia.lenyap terserap kering tanah 
hingga aku terbang nuju awan. menghilang lama 

Sepinggan ku telah pergikan seribu catatan 
tentangmu. terkubur di remang bintang dan bulan 
iringi penguburan. tak ada api unggun 
dan hymne kematian. kehilangan wajar adanya 
sebab surya tak sudi buka catatanmu lagi. 

Mungkin badai kelak mengeja 
setiap nyanyi piluku buatmu 
mengalun bagai pendaratan 
terakhir di ujung musim 

Balikpapan,2014

Warung Kopi Depan Pabrik

Sehitam aspal jalan, sehitam kopi panas 
mengingat mimpi yang tak pernah terjadi 
kami harus berhitung berapa kata akan pergi 
keringat tlah terkuras, dan kami harus minggir 
dengar kembali merdu denting gelas beradu ramai ocehan 

Merasakan nikmat kopi, merasakan asap pembuangan 
kami adalah orangorang terbuang yang melayangkan angan 
pada tanggal muda, terlihat wajah panas anak+istri menyambut 
bibir bertanya 'bawa apa? '. Tapi kopi ini sudah dingin. 

Mungkin sudah cukup tenggelam pekat kopi 
ternyata Bos belum datang. semakin kental pekat 
selubungi harapan. Oh...kami harus pesan kopi lagi. 
Kami akan mengutang lagi. kami mengoceh lagi tentang harapan. 
Kami berdoa 'Semoga Bos menemui kami lalu bayarkan kopi ini' 

Bekasi,2014 



 






Jumat, 28 November 2014

Antologi Puisi “Surabaya Di Lembar Kenangan” (Karya 6 penyair) dalam ulasan DR. Tengsoe Tjahjono, M.Pd

MEMPERTAHANKAN LOKALITAS SURABAYA DALAM PUISI
Oleh : DR. Tengsoe Tjahjono, M.Pd.

    Kota dan puisi merupakan dua entitas yang memiliki hubungan khusus. Banyak penyair yang tergoda untuk menuliskan pengalamannya bergaul dengan sebuah kota ke dalam puisi-puisinya. Kota dengan segala keunikan dan rahasia yang dimilikinya sering memberikan inspirasi bagi penyair. Penyair bukan hanya tergoda untuk mengekalkan yang indah dari sebuah puisi, tetapi juga mengkritisi segala yang kurang baik dari sebuah kota, entah kritik terhadap tata ruang, tata kelola, dan sebagainya. Di sisi lain, sebuah kota memerlukan penyair sebab puisi bisa hadir sebagai catatan abadi dan cermin yang bagus bagi eksistensi sebuah kota.
    Antologi Puisi “Surabaya, di lembar kenangan” juga lahir dengan latar belakang seperti itu. Ada 6 penyair dalam antologi ini yaitu Hasan Bisri BFC (Jakarta), Pipie Johan Egbert (Surabaya), Yanie Wuryandari (Jakarta), Baby Anis K (Tokyo), A.Rahim Eltara (Sumbawa), Fitrah Anugerah (Bekasi). Mereka berenam merupakan sosok yang pernah bersinggungan dengan kota Surabaya entah karena pekerjaan maupun karena memang tanah kelahirannya. Ada di antara mereka sekarang ini yang sudah meninggalkan kota Surabaya namun masih memiliki catatan khusus mengenai kota tersebut.
Hasan Bisri yang ketika di Surabaya berkegiatan menulis, entah sebagai wartawan atau sastrawan, banyak menuliskan perjumpaannya dengan pelbagai fenomena, entah orang, tempat, atau peristiwa. Makam Mbah Bungkul, Taman Bungkul, Kantor Surabaya Post, Monumen, Kenjeran, Budi Darma, Suripan Sadi Hutomo, dan sebagainya dia tulis sebab fenomena-fenomena itu amat bernilai bagi Surabaya.
Pada puisi "Di Rumah Budi Darma" ia menulis: 
Pada akhirnya sampai juga di muara hatimu/ setelah berpayah mengarungi arus pikiranmu/ meski harus menelisik lagi/ rumit rimpang peta perjalanan/ yang kaugambar di atas lembar katakata/dan kenangan. 
Pertemuan dengan Budi Darma merupakan peristiwa yang amat berarti karena Hasan Bisri bisa secara langsung mengenali Budi Darma bukan hanya lewat tulisan. Menyelami pikiran seseorang memang tidak mudah, demikian menyelami keunikan Surabaya.
Dalam puisi "Veteran" Hasan Bisri mengritik secara lembut bagaimana Surabaya yang Kota Pahlawan itu menghargai para pejuangnya. Ia menulis: 
ketika perang usai/ ia menganyam rumah dari sayatan bambu runcing/ senjata yang dulu membuat kalangkabut Belanda/ dan diabadikannya ia dengan Setya Lencana/ benda keramat yang kelak bukan apaapa. 
Puisi ini sangat ironis dan satir. Banyak veteran yang justru menderita di masa kemerdekaan, apalagi di Surabaya. Bagi para veteran sebenarnya satya lencana bukan yang diperlukan. Yang mereka butuhkan adalah kehidupan yang layak, yang tidak hanya membangun rumah sari sayatan bambu runcing.
Bagaimana pula puisi Pipie Johan E yang pernah berkarya di bidang media radio ini? Tampaknya Pipie Johan rajin mencatat tempat-tempat istimewa di kota Surabaya. Banyak tempat di kota Surabaya yang tak ingin lewati begitu saja. Dalam puisinya :
"Membuang Jemu di Tepian Pantai Kenjeran" ia menulis: 
Di pantai Kenjeran tengah hari dengan angin melintas/ 
udara berbaur bau ikan terhirup bebas/ 
di hening pantai kubuang jemu atas rutinitas,/ 
menerbangkannya bergegas/ 
bersama camar yang datang sepintas/
lantas terbang lepas. 
Puisi ini sangat deskriptif. Puisi yang secara cermat menuliskan apa yang terindra oleh penyair. Ia melukiskan angin melintas, bau ikan, dan burung camar yang bergegas sebagai gambaran begitu dekatnya dengan alam. Mengapa? Alam yang indah dapat dihadirkan sebagai tempat melepas katup kejemuan karena tumpukan rutinitas. Dan, Surabaya memiliki tempat-tempat seperti itu.
Dalam puisi "Surabaya Setia Menampungku Pulang" Pipie Johan menulis:
Pintu Surabaya bagiku tak pernah tertutup dengan palang / 
senantiasa terbuka siap menampungku pulang/ 
sejauh manapun melangkah, Surabaya setia terjaga untuk menimang/ 
kala mengadukan perih luka perantauan dan nestapa yang panjang.
Puisi itu menunjukkan bahwa betapa ramahnya Surabaya bagi warganya. Surabaya memang sebuah kota terbesar kedua di Indonesia. Namun, Surabaya tidak memberikan kesan angkuh dan sombong. Bahkan, sekarang ini taman-taman indah dibangun di pelbagai tempat, membuat Surabaya menjadi sangat menyejukkan bagi warganya. Arsitektur kota Surabaya tampaknya masih mengedepankan pentingnya ruang hijau terbuka demi kenyamanan bersama. Oleh karena itu, sejauh-jauh seseorang pergi mengarungi hidupnya, toh Surabaya tetap akan menerima ketika mereka rindu pulang.
Yanie Wuryandari, seperti penyair lain, juga menuliskannya kedekatannya dengan Surabaya. Penyair yang pernah menjadi penyiar Radio Wijaya ini bukan hanya menuliskan keindahan Surabaya, tetapi ia tulis juga kegetirannya. Misalnya dalam puisi "Jembatan Suramadu Itu" secara utuh ia menulis seperti berikut ini.
JEMBATAN SURAMADU ITU
kemudian melesat matahari
jatuh ke dalam selat
mimpi-mimpi
membiru menjadi guratan sepi
bahkan saat jembatan garang itu
telah terpancang
kita telah tandas tenggelam
jauh ke dasar kehidupan
tak terjembatani lagi
mimpi masa lalu dan masa nanti
Memandang Suramadu bukan hanya terjebak pada kemegahan yang ditampakkan, tetapi juga dampak lain yang mungkin akan ditimbulkan. Bisa jadi karena Indonesia merupakan negara bahari, kehadiran jembatan penghubung antarpulau sesungguhnya sangat ironis. Pelaut membutuhkan kapal, bukan jembatan. Maka, Yanie memandang mimpi membiru menjadi guratan sepi oleh kehadiran jembatan tersebut, mimpi pelaut untuk menjadi bangsa pelaut yang besar.
Dalam puisi "Mekar di Bandara Juanda" Yanie menulis puisi yang romantis walau tetap menghadirkan latar kota Surabaya. Berikut ini puisinya.
MEKAR DI BANDARA JUANDA
ada gemuruh berlomba riuh
saat roda-roda rindu menyentuh kalbu
menuruni tangga demi tangga memeluk debar
langsung ke bumi hatimu yang tak henti bergetar
hangat apron juanda mengibar-ngibarkan nyala
membakar dalam pesona yang alpa untuk reda
ini tiketmu -katamu- menuju ke hatiku
ini pipiku -kataku- sentuhlah kapan saja kau rindu
Puisi tersebut menuliskan perpisahan yang menggetarkan. Ekspresinya menjadi amat khas karena Yanie memakai latar bandara secara cermat untuk menggambarkan suasana batin "aku lirik": roda - tangga - apron - tiket. Kepiawaian dalam hal menangkap kata dan memakainya untuk melukiskan suasana hati merupakan pembeda puisi Yanie dengan penyair lain dalam antologi ini. Puisi-puisi Yanie mampu menjadi jalan refleksi dan mawas diri.
Dalam antologi ini juga menampilkan puisi-puisi Baby Anis K. yang pernah menjadi penyiar radio dan guru. Puisi-puisi Baby tampak kuat pada nafas kristianinya. Misalnya puisi berikut ini.
DENTANG LONCENG PREGOLAN BUNDER
Dentang lonceng tiga kali
Sayup-sayup ditiup angin bulan Desember
Memanggilku memasuki ruang teduh
Mengucap janji pengakuan iman 
Untuk berjalan di ladang Tuhan.
Ladang itu tidak subur
Ladang itu perlu pekerja
Dan aku siap menanam benih di tanah terjal
Lonceng dan kubah tua Gereja Pregolan 
Menjadi saksi perjalanan ziarahku
Melintas batas dan budaya
Seraya menanti masa panen tiba.
Puisi tersebut berisi bagaimana aku lirik menjawab panggilan Tuhan untuk berkarya di ladang-Nya. Dunia ini merupakan ladang Tuhan, aku lirik merasa terpanggil untuk menjadi pekerja di ladang itu. Dan, bekerja di ladang itu bukan pekerjaan mudah karena bukan merupakan tanah yang subur. Relasi antara aku - dunia - pekerja - Tuhan merupakan relasi religius yang ditulis secara terbuka dalam puisi ini. Puisi dengan nafas kristen juga terdapat dalam puisi Baby berikut ini.
MELATI DI GANG DOLLY
(mengenang sahabatku, Evangelist R.H)
Seperti kuntum melati mekar, terjepit di antara aneka bunga artificial
Sekilas tak berbeda paras ayunya
Rasa ingin berguru padamu di waktu itu
Membawaku dalam pencarian panjang
Menyisakan teka-teki di senja hari
Sampai kutemukan perteduhanmu
Tersembunyi di sela-sela gemerlap lampu dan hingar bingar semu
Menyempil di sudut gang yang tak pernah lengang
Kakiku terhenti di depan rumah mungil berdinding kayu
Bertuliskan “RUMAH TANGGA BAIK-BAIK”
Aku termangu dalam ketukan yang terakhir
Ada kalanya sebuah pengumuman dan pernyataan
Menjadi dewa penolong
Daripada berdiam diri
Puisi tersebut dipersembahkan kepada sahabatnya seorang evangelist, pewarta kabar baik. Tampaknya temannya itu tinggal di perkampungan Dolly, sebuah kompleks pelacuran di Surabaya. Tulisan "Rumah Tangga Baik-baik" yang tertempel di pintu memang menjadi ironis sebab 'baik' yang sesungguhnya nilai pribadi biasanya terpancar lewat perilaku nyata. Hanya saja di tempat yang hiruk pikuk seperti itu tanda-tanda lahiriah sungguh diperlukan. Puisi-puisi Baby banyak berupa komentar atas fenomena atau peristiwa yang terjadi di Surabaya.
Penyair A. Rahim Eltara juga pernah tinggal di Surabaya dan kini bermukim di Sumbawa Besar. Ketika dia berada di serambi musholah DKS pada tahun 1999 puisi berikut ini.
KEPAK SAYAP FARDHU
Bulu sayap rasa 
gugur menancap di lengan nurani
kepak sayap fardhu menggetarkan senar biola batin
langkah digegaskan menuju rumah-Nya 
sujud merendah dalam takbiratul ikhram
Puisi Rahim ini juga kental nafas religiusnya. Rahim justru menuliskan kelebat batinnya, bukan menuliskan apa yang diindra. Puisi ini menunjukkan bahwa fenomena atau peristiwa merupakan pintu masuk untuk mensyukuri nikmat Tuhan dan menakjubi kebesaran Tuhan. Bahkan, dalam penggalan puisi berikut ini Rahim seakan menyadari kehadiran Tuhan di mana-mana, termasuk di dalam mall.
MEMASUKI SEBUAH MALL
WAJAHMU TERBINGKAI DI MANA-MANA
Aku melintas di ujung cahaya memasuki sebuah mall
Harum parfum beraneka merk simpang siur terbawa napas udara 
seola-ola kita berhadapan, saling menatap dalam-dalam. Dekat sekali.
Wajah kita hampir bersentuhan, napas letih tertukar di cakrawala.
Lalu kita bermain kejar-kejaran di antara belantara halaman
kitabmu yang terpampang di estalase. Kemudian aku melepas pakaian satu persatu
dan mengganti dengan trend mutakhir, mirip sekali dangan jubahmu.
Aku jadi terkesima memandang tumpah rua cahaya yang memancar dalam diammu.
Kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam segala perilaku tentu menjadi sangat baik bagi jejak langkah manusia. Lebih-lebih jika ada kehendak untuk selalu menghadirkan Tuhan. Kesadaran seperti itu akan memperkecil tindakan manusia yang menyimpang dari jalan kebaikan. Tampaknya kota Surabaya yang menyuguhkan hingar-bingar bisa saja tidak menjebak manusia ke dalam tindakan menyimpang asal manusia memiliki kesadaran ketuhanan yang terjaga. Surabaya menjadi keras dan beringas bagi manusia yang tidak menyiapkan diri menamengi dirinya dengan perintah atau Sabda Tuhan.
Penyair terakhir yang terdapat dalam antologi ini adalah Fitrah Anugerah. Penyair kelahiran Surabaya ini sekarang berdomisili di Jakarta. Peristiwa-peristiwa kecil yang dialaminya ditulisnya dengan bagus. Misalnya puisi berikut ini.
PADA SEBUAH TAMAN KOTA
Di kotamu tak ku temukan kupu-kupu
Semenjak pelangi telah bersemayam
Dan tetes hujan menjadi keruh
Bersarang di hampar taman; ditimpa remang lampu
Dia menuliskan keadaan yang sesungguhnya menyedihkan. Di kota tak ada lagi kupu-kupu. Mengapa demikian? Sebab kupu-kupu memerlukan bunga, bunga memerlukan taman, taman sudah mulai berkurang karena kalah dengan pembangunan gedung-gedung. Bahkan, udara yang sudah tidak sehat membuat tetes hujan pun menjadi keruh. Dan, itulah keadaan kota besar. Di samping kemajuan yang dipamerkan, tetapi sekaligus menampilkan sisi-sisi murung dari kemajuan itu.
Fitrah juga menulis sebuah konteks budaya lokal yang menarik yaitu warung kopi giras. Tentu fakta ini merupakan bentuk antitesa terhadap gemerlap kota. Berikut puisi tersebut.
WARUNG KOPI GIRAS
Ia datang saat mata larut
Dalam secangkir kopi
Ia bercerita tentang arah angin
Yang menyimpang jauh 
Ia sendiri tak meyakini
Sebuah pertemuan
Secangkir kopi giras mencatat arah angin yang menyimpang jauh. Bisa jadi antara modernisasi dan tradisi lokal sudah berjalan dengan arah berlawanan. Dan, aku lirik tidak meyakini lahirnya sebuah pertemuan antara dua hal tersebut. Mau jadi apa kelak arsitektur kota Surabaya, kita semua bertanya. Kini, warga Yogyakarta mulai gelisah ketika budaya lokal mulai dikalahkan dengan berdirinya hotel-hotel besar dan jalan-jalan sudah dipenuhi wisatawan. Bagaimana dengan Surabaya? Akankah Surabaya juga akan kehilangan identitasnya?
    Enam penyair telah menuliskan segala kebanggaan, ketakjuban, dan sekaligus kegelisahan mereka atas Surabaya yang amat dicintai. Puisi-puisi dalam antologi ini memuat segala persoalan kota besar yang dikemas dengan cara sederhana. Surabaya boleh tumbuh menjadi kota megapolitan, tetapi hendaknya jangan tinggalkan nilai-nilai lokal yang indah. Jangan identitas lokal Surabaya lenyap digerus globalisasi.
Seoul, 7 November 2014
DR. Tengsoe Tjahjono, M.Pd.
Pengajar di Unversitas Negeri Surabaya
(Sekarang sedang menjadi dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies Seoul Korea).

sumber: https://www.facebook.com/rozuno.kaori/posts/365281676972412